b u m i k u

cerita cum cerita coret coret cuma coret

Dangdut Forever

dengan 2 komentar

Namanya Maya Geboi,propesinya penyanyi Dangdut keliling. Status janda anak satu (1). Penghasilannya 10 sampai 25 ribu rupiah sehari. Dia menjajakan suaranya mulai dari jam 5 sampai jam 2 pagi, lokasi menyanyi Terminal, pasar, dan tempat- tempat umum yang ramai manusia………!!

Ini potret keseharian maya, yang saya tau nama aslinya Siti Nurhayati Grup Ordo ( orkes dorong) ini mungkin bisa mewakili potret musik dangdut yang selama ini dianggap musik pinggiran, yang datang dari kelas bawah dan kurang berpedidikan…stereotipe dengan suara melengkin, seruling bambu dengan nada yang terkadang tak karuan dan gitar dengan senar gitar yang mungkin terasa tidak nyaman ketika memainkannya. Tak heran ketika film Mendadak Dangdut begitu menyedot perhatian, mungkin karena di garap oleh sutradara dan pemain-pemain muda yang selama ini jauh dari urusan dangdut sebut saja. Titi Kamal, Kinaryosih dan sutrada Rudy Soedjarwo. Mungkin maya tidak punya pilihan lain untuk beralih propesi karena itulah musik Dangdut sudah menajadi hidup mati maya dan perempuan betawi pun tak kuat menah air matanya ketika dia mendapat kesempatan berduet dengan salah satu penyanyi idolanya Ellya Kadam dengan menyanyikan lagu favoritnya. Mengulas perjalanan musik dangdut di Indonesia memang cukup panjang namun. Ellya Kadam yang kini berusia 75 tahun yang juga di sebut-sebut salah satu yang ikut mempopulerkan musik dangdut yang ketika itu bernama musik melayu.

Waktu itu penyanyi musik melayu mungkin bisa dihitung dengan jari, teknologi rekaman juga masih kuno dan ketika salah harus diulang semuanya dari awal. Waktu itu pernah musik dangdut berjaya ketika Bung Karno melarang musik ” ngak ngik ngok ” dari barat masuk ke Indonesia musik melayu kembali naik daun setelah sebelumnya terpukul oleh musik-musik barat. Orde Baru berkuasa musik barat kembai berjaya dan lagi-lagi musik dangdut kembali terpinggirkan dan sampai akhirnya ada seorang pemuda berdarah sunda yang sekarang kita kenal dengan nama Rhoma Irama mengangkat musik ini kembali naik ke kelas yang lebih atas dengan memainkan musik dangdut menggunakan instrumen menggantikan akustik.

Tapi, jika musik dangdut masih dikonotasikan dengan musik kelas bawah, kampungan, tidak intelek semua itu tidak menyurutkan para penggemar musik dangdut surut langkah pokonya dangdut”””” dangdut FOREVER”””’

Ditulis oleh renggo

22 Maret 2007 pada 11:18 AM

Ditulis dalam Dangdut Forever

2 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. seer….Tarik mang..!. Hidup Dangdut.
    Dangdut adalah musik rakyat..!!

    podjlenk

    2 April 2007 pada 12:28 PM

  2. boleh tau gk no yg bisa gw kontak??coz gw butuh buat hiburan masyarakat perkampungan..thx

    hendra

    8 Januari 2008 pada 9:33 AM


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.